Warga Bantah Pengakuan Siliyana Manurung, Kafe Milik Ibunya Disebut Sarang Maksiat

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kasus dugaan penganiayaan dan persekusi yang menimpa Siliyana Angelita Br Manurung dan ibunya Maya Nainggolan yang viral di media sosial terus bergulir, setelah masuk ke ranah hukum.

Namun,  apa yang diungkapkan Siliyana di Facebook dan menjadi perbicangan massa itu berbanding terbalik dengan penuturan warga setempat.

Menurut Andi (35) salah seorang warga yang tinggal berdekatan dengan rumah Siliyana, bahwa pengakuan gadis itu tidak benar. Siliyana bukan dianiaya oleh ketua ormas berinisial.

Sebab, saat insiden itu terjadi massa ramai sekali. Bahkan, gadis tersebut menutupi peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Selain itu, sebut Andi, perlu diketahui juga kalau rumah Siliyana yang dihuni itu bersama ibunya ternyata dijadikan tempat maksiat.

Rumah tersebut merupakan kafe remang-remang bernama Kafe Maya, dan sekaligus dijadikan tempat pijat.

“Sering dijadikan tempat maksiat, seperti mabuk-mabukan, peredaran narkoba serta sebagai tempat penadah barang curian. Tempat ini beroperasi mulai habis maghrib sampai pagi,” ujar Andi di lokasi, Sabtu (15/9/2018).

Baca Juga : Viral! Siliyana Manurung Dianiaya, Ibunya Diarak, dan Dikat di Pohon, Kedai Tuaknya Dirusak

Ia menjelaskan bahwa kemarahan warga membabi-buta saat kejadian. Untungnya, ada MP datang lalu mencegah agar massa tidak semakin anarkis. Karena kalau tidak dicegah, mereka sudah dihajar massa.

Terkait karton yang digantungkan di leher Maya, Andi membenarkan ada karton yang digantung dileher, itu dilakukan biar pelaku pencurian dan penadah jera. Karena pelaku pencurian selama ini di kampung sekitar hanya itu-itu saja orangnya.

“Pemilik kafe ini sebagai penadah, tapi tidak mau mengakui. Logikanya apa mungkin jam 1 atau jam 2 malam? Kalau dia mau nolong kan nggak mungkin jam segitu, pasti kan maling mereka terus jual barang. Apa mungkin jam segitu orang baik-baik menadah barang dengan alasan untuk makan,” cetusnya.

Andi menyatakan, pengakuan Siliyana di medsos adalah bagian untuk ‘cuci tangan dan mengaburkan persoalan yang sebenarnya terjadi.

“Terserah dia kalau mau bawa jalur hukum. Tapi dia kan tahu tempat ini sebagai apa, jangan dia cuci tangan. Soal sepeda motor 2 unit itu bukan dirampas, kami minta barang bukti BKPB untuk dilengkapi dan kami bawa ke polisi. Kalau dia lengkap silahkan bawa pulang,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan IX,  Kelurahan Menteng, Kecamatan Medan Denai, Ali Sodikin Siregar mengatakan saat kejadian ia ditelepon warga, bilang ada kedapatan maling dan 30 menit kemudian ia sampai dilokasi.

“Waktu saya sampai, posisi maling sudah mau dibawa ke Polsek. Cafe ini memang dari sejak awal berdiri 3 tahun lalu, warga sudah keberatan. Karena disamping suaranya yang bising setiap malam beraktivitas dan mengganggu Masjid yang berdekatan dengan lokasi. Juga merusak moral anak-anak disini,” tegasnya.

“Informasi dari masyarakat ibu Maya pemilik Cafe diduga rajin menadah barang hasil curian. Pemicunya mungkin karena dari dulu warga tidak suka. Apalagi pas ada Tahlilan di Gang sebelah, musik disini hidup seperti tidak menghargai,” jelas Ali.

Perlu diketahui, Dua hari terakhir jagad Sosial Media (Sosmed) dihebohkan dengan curhatan seorang perempuan muda, Siliyana Angelita Manurung yang mengaku dianiaya bersama ibunya oleh warga di wilayah rumah tempat tinggalnya.

Siliyana yang tinggal di daerah Medan Estate, Deliserdang ini, meminta tolong kepada warganet, lembaga bantuan hukum, dan para jurnalis untuk menolong ia dan ibunya yang menurutnya telah menjadi korban persekusi.

Sebelumnya, Siliyana mengaku menjadi korban penganiayaan yang dilakukan seorang pria yang disebut-sebut ketua salah satu ormas di Medan.

Aksi penganiayaan yang sempat viral di medsos (facebook) itu bukan saja dialami gadis remaja ini. Namun ibu Siliyana ikut diikat di bawah pohon yang dilakukan warga tidak jauh dari rumahnya. Bahkan warung tuak milik ibu korban turun dihancurkan hingga rata dengan tanah. (fir/pojoksumut)

Warga Bantah Pengakuan Siliyana Manurung, Kafe Milik Ibunya Disebut Sarang Maksiat

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kasus dugaan penganiayaan dan persekusi yang menimpa Siliyana Angelita Br Manurung dan ibunya Maya Nainggolan yang viral di media sosial terus bergulir, setelah masuk ke ranah hukum.

Namun,  apa yang diungkapkan Siliyana di Facebook dan menjadi perbicangan massa itu berbanding terbalik dengan penuturan warga setempat.

Menurut Andi (35) salah seorang warga yang tinggal berdekatan dengan rumah Siliyana, bahwa pengakuan gadis itu tidak benar. Siliyana bukan dianiaya oleh ketua ormas berinisial.

Sebab, saat insiden itu terjadi massa ramai sekali. Bahkan, gadis tersebut menutupi peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Selain itu, sebut Andi, perlu diketahui juga kalau rumah Siliyana yang dihuni itu bersama ibunya ternyata dijadikan tempat maksiat.

Rumah tersebut merupakan kafe remang-remang bernama Kafe Maya, dan sekaligus dijadikan tempat pijat.

“Sering dijadikan tempat maksiat, seperti mabuk-mabukan, peredaran narkoba serta sebagai tempat penadah barang curian. Tempat ini beroperasi mulai habis maghrib sampai pagi,” ujar Andi di lokasi, Sabtu (15/9/2018).

Baca Juga : Viral! Siliyana Manurung Dianiaya, Ibunya Diarak, dan Dikat di Pohon, Kedai Tuaknya Dirusak

Ia menjelaskan bahwa kemarahan warga membabi-buta saat kejadian. Untungnya, ada MP datang lalu mencegah agar massa tidak semakin anarkis. Karena kalau tidak dicegah, mereka sudah dihajar massa.

Terkait karton yang digantungkan di leher Maya, Andi membenarkan ada karton yang digantung dileher, itu dilakukan biar pelaku pencurian dan penadah jera. Karena pelaku pencurian selama ini di kampung sekitar hanya itu-itu saja orangnya.

“Pemilik kafe ini sebagai penadah, tapi tidak mau mengakui. Logikanya apa mungkin jam 1 atau jam 2 malam? Kalau dia mau nolong kan nggak mungkin jam segitu, pasti kan maling mereka terus jual barang. Apa mungkin jam segitu orang baik-baik menadah barang dengan alasan untuk makan,” cetusnya.

Andi menyatakan, pengakuan Siliyana di medsos adalah bagian untuk ‘cuci tangan dan mengaburkan persoalan yang sebenarnya terjadi.

“Terserah dia kalau mau bawa jalur hukum. Tapi dia kan tahu tempat ini sebagai apa, jangan dia cuci tangan. Soal sepeda motor 2 unit itu bukan dirampas, kami minta barang bukti BKPB untuk dilengkapi dan kami bawa ke polisi. Kalau dia lengkap silahkan bawa pulang,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan IX,  Kelurahan Menteng, Kecamatan Medan Denai, Ali Sodikin Siregar mengatakan saat kejadian ia ditelepon warga, bilang ada kedapatan maling dan 30 menit kemudian ia sampai dilokasi.

“Waktu saya sampai, posisi maling sudah mau dibawa ke Polsek. Cafe ini memang dari sejak awal berdiri 3 tahun lalu, warga sudah keberatan. Karena disamping suaranya yang bising setiap malam beraktivitas dan mengganggu Masjid yang berdekatan dengan lokasi. Juga merusak moral anak-anak disini,” tegasnya.

“Informasi dari masyarakat ibu Maya pemilik Cafe diduga rajin menadah barang hasil curian. Pemicunya mungkin karena dari dulu warga tidak suka. Apalagi pas ada Tahlilan di Gang sebelah, musik disini hidup seperti tidak menghargai,” jelas Ali.

Perlu diketahui, Dua hari terakhir jagad Sosial Media (Sosmed) dihebohkan dengan curhatan seorang perempuan muda, Siliyana Angelita Manurung yang mengaku dianiaya bersama ibunya oleh warga di wilayah rumah tempat tinggalnya.

Siliyana yang tinggal di daerah Medan Estate, Deliserdang ini, meminta tolong kepada warganet, lembaga bantuan hukum, dan para jurnalis untuk menolong ia dan ibunya yang menurutnya telah menjadi korban persekusi.

Sebelumnya, Siliyana mengaku menjadi korban penganiayaan yang dilakukan seorang pria yang disebut-sebut ketua salah satu ormas di Medan.

Aksi penganiayaan yang sempat viral di medsos (facebook) itu bukan saja dialami gadis remaja ini. Namun ibu Siliyana ikut diikat di bawah pohon yang dilakukan warga tidak jauh dari rumahnya. Bahkan warung tuak milik ibu korban turun dihancurkan hingga rata dengan tanah. (fir/pojoksumut)