TNI Baru Nikah Tewas di Markas, Rencana Bulan Madu Gagal, Istri Merana

POJOKSATU.id, SURABAYA – Kepergian prajurit TNI AL, Achmad Halim Mardyansyah untuk selamanya membuat istrinya, Aisyah Syafiera merana. Maklum saja, perempuan 23 tahun itu baru dipersunting prajurit TNI AL berpangkat Kelasi Kepala (KLK)
itu pada 27 Agustus lalu.

Mimpi indah untuk berbulan madu harus sirna. Minggu (9/9) siang, Halim dan Aisyah seharusnya berangkat ke Bali. Mereka sudah merencanakan bulan madu sejak jauh-jauh hari.

”Tiket kereta sudah pesan. Hotel juga sudah pesan sampai tanggal 13,” cerita Aisyah seperti dikutip dari JawaPos.com, Sabtu (15/9/2018).

Namun lewat batas jadwal keberangkatan kereta api menuju Banyuwangi sebelum transit ke Bali, Halim tidak kunjung pulang ke rumah.

”Seharusnya kereta berangkat pukul 14.00 WIB,” lanjut bungsu dari dua bersaudara tersebut.

Keesokan harinya, Senin (10/9), kabar duka sampai ke telinga Aisyah. Suaminya ditemukan tak bernyawa di pohon bambu, belakang markas tempatnya berdinas. Halim dikabarkan gantung diri.

Aisyah sama sekali tidak mempercayai suaminya nekat gantung diri. ”Mas (Halim) itu orangnya religius. Dari awal memang nggak mau pacaran, kalau serius langsung mengajak nikah,” ucap Aisyah.

Halim dan Aisyah melangkah ke pelaminan serba cepat. Pertama kali, mereka bertemu sekitar setahun lalu.

Waktu itu mereka bertemu di camping ground Kakek Bodo. Keduanya memang hobi naik gunung dan terbiasa mengikuti kegiatan perkemahan di alam terbuka. ”Waktu itu cuma sekadar tahu saja. Belum tahu namanya mas,” kenangnya.

Selanjutnya, mereka kembali bertemu pada sebuah acara penananaman seribu bibit di Gelora Bung Tomo (GBT). Waktu itu mereka sudah saling kenal. Keduanya lantas bertukar nomor handphone.

Setelah pertemuan di GBT, keduanya kerap berkomunikasi melalui WhatsApp. ”Kami sering chattingan, ngbrolnya kebanyakan soal agama,” kata Aisyah.

Pada 1 Juli, mereka berkemah di Coban Jahe, Malang. Saat itulah Halim menyatakan secara langsung bahwa ingin menikahi Aisyah. Ucapan itu tidak main-main. Keesokan harinya, Halim memberanikan diri datang sendirian ke rumah Aisyah di kawasan Wonokromo.

”Setelah itu saya dikenalkan ke orang tua mas. Nggak lama setelah itu keluarga mas bilang mau ke rumah. Bilangnya ke mau silaturrahim, ternyata langsung melamar,” tutur alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut.

Dua minggu setelah keluarga Halim datang, pihak keluarga Aisyah membalas lamaran tersebut. Dengan proses cepat sejak 6 Agustus, Halim dan Aisyah mengurus berbagai administrasi sebagai persyaratan nikah.

”Dua minggu ngurus, nikah 27 Agustus di rumah saya. Besoknya saya tinggal di sini,” lanjutnya.

Setelah menikah sekitar dua minggu, pasangan pengantin baru itu memang belum sempat honeymoon. Awalnya mereka sempat akan pergi ke Jogjakarta dan Lembang, Bandung. Namun Bali yang akhirnya dipilih.

Seharusnya, mereka saat ini sedang menikmati masa-masa romantis di Pulau Dewata. ”Seharusnya kami berangkat setelah mas turun jaga (piket). Sudah punya rencana mau camping di Nusa Penida,” ungkap Aisyah.

Mimpi berbulan madu itu akhirnya kandas. Halim telah tiada. Aisyah percaya bahwa kebenaran akan menang. Dia yakin sang suami tidak bunuh diri.

”Mas itu orangnya kalau ada kebenaran harus diungkapkan. Saya berharap kasus ini (kematian Halim, Red) bisa benar-benar terungkap,” harapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, anggota Detasemen Perbekalan (Denbek) Pangkalan Korps Marinir (Lanmar) Karang Pilang, Surabaya KLK Achmad Halim Mardyansyah ditemukan tidak bernyawa pada Senin (10/9).

Menurut rekan-rekan kerjanya, Halim gantung diri di pohon bambu. Namun keluarga tidak yakin Halim gantung diri. Mereka menduga Halim tewas dibunuh setelah mendapati sejumlah kejanggalan.

Kadispen Kormar Letkol (Mar) Ali Sumbogo menjelaskan, kasus tersebut sedang diselidiki Pomal Lantamal V Surabaya.

”Sudah ada tim yang diterjunkan, sudah kami laksanakan sesuai prosedur. Prosesnya sedang berlangsung,” jelas Ali.

Achmad Halim Mardyansyah 1

(did/jpc/pojoksatu)