Pasangan Dokter Diperiksa Polisi, Diduga Pelaku KDRT Orang Tua Kandung

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pasangan dokter diperiksa penyidik Polres Jakarta Selatan, terkait dugaan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Selasa siang (28/8/2018).

Pasangan dokter itu yakni Adams Selamat Adi Kuasa dan Clarissa Putri Suseno. Dokter Admas diperiksa sebagai terlapor, sedangkan istrinya diperiksa sebagai saksi.

Pelapornya adalah Ello Hardiyanto (63) dan Gina (53), orang tua kandung Adams. Warga Jalan Guntur, Jakarta Selatan itu melaporkan anaknya ke polisi atas dugaan KDRT sejak 2016.

Dokter Adams dan Sasa datang memenuhi panggilan penyidik di Polres Jakarta Selatan, Selasa (28/8) sekitar pukul 13.44 WIB.

Adams dan Sasa dikawal seorang pria berkemeja coklat. Keduanya kompak memakai kemeja warna putih. Mereka menghindari kejaran wartawan yang ingin mengkonfirmasi kasus yang membelitnya.

Tak ada sedikit pun kalimat terlontar dari balik bibirnya. Bahkan keduanya masuk ke ruangan yang tak biasa dilalui. Keduanya melewati lorong timur markas Polres Jakarta Selatan.

Adams saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi diperiksa polisi karena diduga melakukan KDRT kepada kedua orangtuanya.

Albert Kuhon, kuasa hukum Ello Hardiyanto menceritakan ihwal persoalan ini. Menurut Kuhon, pada akhir Mei 2017, Adams memasang iklan di dua koran yang berbeda, menyatakan dirinya putus hubungan keluarga dengan Ello.

Beberapa hari sebelumnya, Adams mengirim surat kepada pihak Majalah Indonesia Tatler yang isinya menyatakan Ello dan istrinya tidak berhak menjadi orangtuanya. Akhir tahun 2017, Adams mengadukan Ello melakukan pencemaran nama baik.

“Tindak kekerasan psikis yang terus-menerus dilakukan dokter Adams menyebabkan Ello merasa tidak berdaya, kehilangan rasa percaya diri, dan mengalami penderitaan psikis, bahkan pernah mengalami depresi,” kata Albert Kuhon kepada wartawan, Selasa (18/8/2019).

Dokter Adams memenuhi panggilan polisi

Dokter Adams memenuhi panggilan polisi

Kuhon melanjutkan, hasil evaluasi psikologis pertengahan tahun 2017, menunjukan Ello Hardiyanto mengalami gejala trauma psikologis akibat kekerasan fisik dan kekerasan verbal oleh Adams. Evaluasi itu menemukan Ello masih mengalami trauma akibat anaknya mengancam akan memukulinya.

Ello dan Gina menilai seluruh rangkaian tindakan dokter Adams yang kini sedang kuliah di Unsrat Manado, merupakan tindakan kekerasan psikis sejak akhir Oktober 2016 yang membuat mereka sangat menderita.

Karena sudah tidak tahan dan merasa sangat terganggu dengan kelakukan anaknya, Ello didampingi kuasa hukumnya mengadukan Adams ke polisi pada April 2018.

“Dokter Adams dan Dokter Clarissa diperiksa penyidik sehubungan tindakan KDRT terhadap klien kami, Ello dan Gina,” kata Kuhon.

Dokter Nyaris Dipukul Ayah

Kepada polisi, Ello mengatakan bahwa ia dan istrinya berkali-kali mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh Adams. Salah satunya yang paling membekas terjadi pada Oktober 2016. Saat itu, Ello hampir dipukul oleh Adams.

Menurut Ello, ketika itu Adams memaksanya membayar cicilan terakhir sewa gedung guna kepentingan pernikahan sang dokter.

Akhir Oktober 2016, Ello sudah membayar cicilan sewa gedung sekitar Rp 750 juta. Namun dia menolak melanjutkan pembayaran cicilan terakhir senilai Rp 150 juta, karena merasa dihina oleh calon mertua Adams beberapa minggu sebelumnya.

“Penolakan itu membuat Adams marah dan nyaris memukul Ello akhir Oktober 2016,” ujar Kuhon.

KDRT itu terjadi sekitar dua bulan menjelang pernikahan Adams dengan Sasa. Tindak kekerasan yang dilakukan Adams itu sangat mengejutkan Ello dan Gina.

Admas Calon Dokter Spesialis

Dokter Adams adalah putra bungsu Ello dan Gina. Pada tahun 2015, Admas melanjutkan kuliah sebagai calon dokter spesialis di Universitas Sam Ratulangi Manado.

Keributan dengan orangtuanya terjadi pada akhir Oktober 2016, sewaktu Adams pulang ke Jakarta. Beberapa jam setelah tindak kekerasan itu, Adams membawa semua barang-barangnya meninggalkan rumah orangtuanya lewat belakang dan tidak pernah kembali.

Tindak Admas tersebut membekas dalam ingatan Gina, ibu kandung Adams. Sebab, insiden itu terjadi sehari sebelum ulang tahun perempuan tersebut.

Pertengahan November 2016, Ello mendapat surat dari kuasa hukum Yansen Dicky Suseno. Isinya menyatakan semua cicilan sewa gedung yang telah dibayar Ello sebesar Rp 750 juta dianggap hangus. Ello diminta tidak mencampuri urusan pernikahan Adams dan Sasa.

Sejak itu Ello dan Gina sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam persiapan resepsi tersebut. Undangan pernikahan Adams dan Sasa disebarkan tanpa mencantumkan nama Ello dan Gina selaku orangtua mempelai pria.

Resepsi pernikahan itu diliput oleh redaksi Majalah Indonesia Tatler, dan diterbitkan dalam edisi Maret 2017 halaman 30-34. Keterangan foto menyebutkan gambar tersebut adalah foto mempelai Adams dan Sasa bersama orangtua mereka.

Ello menilai berita tersebut bohong, karena orangtua mempelai pria dalam foto itu bukan Ello dan Gina. Kasus penyebaran berita yang tidak benar tersebut ditangani Polda Metro Jakarta sejak tahun 2017.

Dari kasus itu, awal Mei 2017 Ello menyurati Redaksi Majalah Indonesia Tatler untuk memberitahukan ketidakhadirannya dalam pernikahan itu dan meminta Redaksi mengoreksi kekeliruan majalah itu.

Pihak redaksi majalah awal Mei 2017 minta maaf dan berjanji akan mengoreksi kesalahan mereka. Namun janji itu sampai Juli 2017 tidak pernah dipenuhi pihak Redaksi Majalah Indonesia Tatler, sehingga Ello yang didampingi advokat dari kantor pengacara Albert Kuhon dan Partners mengadukan kasusnya kepada Dewan Pers.

Pihak Dewan Pers menyatakan Majalah Indonesia Tatler tidak memiliki izin sebagai perusahaan penerbitan pers, karenanya menyarankan agar Ello menyelesaikannya melalui jalur hukum.

Admas Pasang Iklan Putus Hubungan dengan Orang Tua

Tanggal 27 Mei 2017, Adams memasang iklan di Harian Indopos dan Harian Sindo. Melalui iklan itu, Adams menyatakan putus hubungan keluarga dengan Ello Hardiyanto.

Ternyata, beberapa hari sebelumnya, pada 24 Mei 2017 Adams mengirim surat kepada pihak Majalah Indonesia Tatler yang isinya menyatakan Ello dan istrinya tidak berhak menjadi orangtua Adams. Adams merasa sudah dewasa dan berhak menentukan sendiri siapa yang pantas menjadi orangtuanya.

Akhir tahun 2017, Adams mengadukan Ello melakukan pencemaran nama baik. Ello dan Gina menilai seluruh rangkaian tindakan Adams tersebut, sejak akhir Oktober 2016, merupakan tindakan kekerasan psikis yang membuat mereka sangat menderita.

Akibat tindak kekerasan psikis yang terus-menerus dilakukan dokter Adams, menyebabkan Ello merasa tidak berdaya, kehilangan rasa percaya diri, dan mengalami penderitaan psikis.

Orang Tua Adams Depresi

Pada pertengahan Desember 2016, Ello mengalami depresi. Pertengahan tahun 2017, Psikolog melakukan evaluasi psikologis dan menemukan Ello Hardiyanto menunjukkan gejala trauma paska kejadian yang mengancam keselamatannya secara fisik maupun kesejahteraannya secara psikologis akibat kekerasan verbal yang dilakukan oleh putranya yang bernama Adams.

Psikolog itu mendapatkan Ello masih mengalami taruma akibat peristiwa ketika anaknya mengancam hendak memukulnya. Akibat kejadian itu, Ello juga menunjukkan gejala enggan bertemu orang lain, merasa terancam, dan tidak percaya kepada orang lain.

Dalam pengaduan ini, Ello yang didampingi kuasa hukumnya mengatakan, tindakan Adams tergolong tindak kekerasan dalam rumah tangga. Rangkaian perbuatan Adams mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada Ello dan Gina yang menjadi orangtua kandungnya.

Tindak kekerasan psikis dalam rumah tangga itu diatur dalam Pasal 5 jo pasal 7 Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Selain itu, rangkaian tindakan Adams terhadap orangtuanya dapat digolongkan pidana yang diatur dalam Pasal 355 dan 356 Kitab Undang-undang Hukum Pdana serta Pasal 46 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

(dar/pojoksatu)