Norak! Kepala BIN Daerah Usir Neno Warisman, Gerindra Bilang Copot Saja

POJOKSATU.id, JAKARTA – Penolakan terhadap gerakan #2019GantiPresiden yang diinisiasi oleh Neno Warisman di Pekanbaru menjadi sorotan terhadap kinerja aparat keamanan baik kepolisian daerah maupun BIN daerah.

Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani menyatakan kinerja BIN yang seperti itu dianggap tidak tepat, terlebih dalam konteks demokrasi saat ini.

“BIN itu kan harusnya tidak tampil, tapi ini Kabindanya tampil, ini norak cara kerja begitu,” kata Muzani di komplek DPR, Jakarta, Senin (27/8).

Menurut Muzani, cukup Kapolda dan Pangdam yang tampil, tidak perlu Kepala BIN Daerah (Kabinda). Wakil Ketua MPR itu meminta agar kinerja BIN daerah Riau dievaluasi.

“Ya kalau perlu diganti Kabindanya, banyak kok yang mau,” tegasnya.

Pria asal Lampung itu menyangkal bahwa gerakan #2019GantiPresiden dianggap sebagai gerakan makar yang melawan NKRI.

“Terus yang enggak makar itu apa? Spanduk “tetap Jokowi” gitu,” seloroh Muzani.

Seperti diketahui, proses pemulangan pegiat deklarasi #2019GantiPresiden Neno Warisman dari Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Sabtu (25/8) malam, cukup dramatis dan sempat diwarnai ketegangan.

Hal ini terungkap dari rekaman video Neno berdurasi 01.30 detik yang disebar melalui pesan berantai WhatsApp pada Sabtu malam.

Dokumentasi itu memerlihatkan suasana ketika perempuan berhijab itu dibawa masuk ke area bandara dan dikawal aparat bersenjata laras panjang.

“Ya saya dipaksa pulang naik pesawat. Oo begitu, mau dipaksa pulang. O ternyata dibawa ke sini. Ya ya, tadi mobil ditimpukin dan dipaksa semua orang keluar dari mobil dan sekarang dibawa ke dalam bandara, terus pakai ada senjata semuanya, nih bapak-bapak bersenjata, saya mau dipaksa pulang,” tutur Neno dalam rekaman videonya.

Neno sempat berpikir kalau dirinya tetap bertahan di bandara itu, kemungkinan pihak-pihak yang memaksanya pulang akan melakukan sesuatu hal.

”Kalau saya bertahan di sini kira-kira akan seperti apa? Pasti mereka akan melakukan satu hal, kekerasan. Jadi negeri ini enggak ada undang-undangnya, enggak ada perlindungan,” katanya.

Ketika mobil yang membawa Neno berhenti, seseor pria yang menurut Neno sebagai Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) meminta pintu mobil dibuka. Nadanya tegas.

Saat itu juga sempat terjadi dialog dengan seseorang yang menemani Neno di dalam mobil. “Tadi kan bapak bilang mau berunding?” ucap pria berbadan besar itu.

Seketika langsung dijawab oleh Kabinda. “Siapa bilang, buka buka!,” tegas seseorang yang diduga Kabinda, sembari mendorong pria yang mendampingi Neno. Terlihat, sempat terjadi ketegangan.

Di tengah ketegangan itu, Neno kembali melanjutkan testimoninya. Ia menyebut Kepala BIN Daerah itu memaksanya pulang naik pesawat.

“Kabinda, dia mau paksa saya pulang naik pesawat. Dia paksa, selamatin tas saya, jangan sandera tas saya, jangan sandera tas saya. Itu dipaksa, itu Kabinda, kasar sekali dia, kasar sekali dia. Enggak apa-apa dia mau kasar sama saya. Enggak ada salahnya saya kok,” kata Neno.

Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais menyoroti tindakan Kabinda Riau yang turun tangan memulangkan Neno dari Pekanbaru, ke Jakarta.

“Kabinda, sesuai tupoksinya di UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen, khususnya di pasal 4, 5, 6, tidak bisa melakukan penindakan semacam itu. Itu bukan peran dan wewenang Kabinda,” katanya menjawab JPNN, Minggu (26/8).

Berikut video detik-detik Neno Warisman dihadang dan dipaksa pulang di Pekanbaru:

(rus/fat/jpnn/pojoksatu)