LBH Medan Desak Kasus Persekusi dan Penganiayaan Siliyana dan Ibunya Diusut Tuntas

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kasus persekusi terhadap Selvi Rosmaya Nainggolan, ibu dari Siliyana Manurung yang viral di media sosial didesak diusut tuntas.

Armada Sihite, Kepala Divisi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan yang menjadi kuasa hukum Siliyana dan keluarga menjelaskan  agar dalang yang diduga oknum ketua ormas bisa ditangkap, kasus benar-benar diungkap hingga ke meja hijau.

Apalagi, lanjutnya baik Maya Nainggolan dan Siliyana Manurung sangat trauma karena kejadian tersebut.

Dimana, Siliyana mengaku dipukul pada bagian bibir, sementara ibunya diikat, diarak ke kantor polisi karena diduga menjadi penadah barang curian. Sementara usaha kedai tuak atau kafe dirusak.

“Trauma, sangat trauma mendalam. Mereka saat ini belum berani pulang ke rumah, ada di rumah kerabat mereka,” ujarnya kepada Pojoksumut.com, Sabtu (15/9/2018).

Armada mengatakan pihaknya saat ini ingin berdiskusi dengan pihak kepolisian dan warga agar Siliyana dan ibunya bisa mengambil barang-barang mereka.

“Barang masih berserakan di lokasi, mereka enggak berani ke sana. Orang jadi bebas keluar masuk karena kondisi warung sudah rusak. Ini mau kita diskusikan bagaimana pihak keamanan dari pihak kepolisian menjaga untuk mereka mengambil barang-barang,” ungkapnya.

Baca Juga : Warga Bantah Pengakuan Siliyana Manurung, Kafe Milik Ibunya Disebut Sarang Maksiat
Baca Juga : Viral! Siliyana Manurung Dianiaya, Ibunya Diarak, dan Dikat di Pohon, Kedai Tuaknya Dirusak

Diakui Armada pihak kepolisian sejauh merespon laporan mereka. “Surat penangkapan (pelaku) sudah kita lihat dikeluarkan. “Yang jelas kami percaya dengan Polrestabes. Namun, kalau tidak ada juga tindakan, kami akan jumpai Kapolda. Sementara kita percayakan ke polisi sampai Senin mungkin akan ada tindak lanjut kami seperti jumpai Kapolda,” ungkapnya.

Armada menjelaskan tidak tahu bagaimana emosi warga dan pelaku bisa tak manusiawi dengan mengarak korban hanya gara-gara sepatu curian.

“Ini asalnya korban membeli sepatu yang dituduh sebagai barang curian dan korban dituduh penadah. Kenapa sampai persekusi kita juga heran. Apalagi MP (diduga dalang) sudah tua, ketua pengurus ormas pula. Sangat tidak manusiawi. Apalagi, kami mendapati anak-anak yang dituduh mencuri sepatu itu dipangkasin rambutnya diikatnya. Sementara korban kan tidak tahu, hanya diminta tolong beli sepatu, karena alasan anak-anak itu mau makan,” ungkapnya.

“Sepatu itu dibeli Rp15 ribu. Kan miris, gara-gara itu warung dirusak, diarak, diikat, sampai mau ganti baju enggak dikasih. Enggak pakai selop. Siap disiksa dipukuli, diarak sampai Polsek Medan Area. Kami berharap kejadian ini tidak terulang lagi, cukup sekali ini,” pungkasnya. (nin/pojoksumut)