Kisah Pilu Guru PNS, Kepincut Duda Brondong Berujung Maut

POJOKSATU.id, BANGKA – Keluarga tak menyangka guru PNS cantik, Sri Devi meninggal di tangan suaminya sendiri Fariansyah alias Fari. Fari adalah duda brondong yang menikahi Sri Devi 4 tahun lalu.

Usia Fari 24 tahun, terpaut 10 tahun lebih muda dari Sri yang berusia 34 tahun. Sebelum dinikahi Fari, Sri berstatus janda dengan anak satu. Anak perempuan Sri dari suami pertama kini duduk di bangku SMP di Belinyu, Kabupaten Bangka.

Meski sudah 4 tahun berumah tangga, pasangan Fari dan Sri belum juga dikaruniai anak. Hubungan pasangan suami istri ini pun pasang surut. Kadang cekcok, kadang mesra.

Perbedaan usia dan status membuat pasangan ini sering berselisih. Fari yang lebih muda 10 tahun dan tidak memiliki pekerjaan sulit mengontrol sang istri yang berprofesi sebagai guru SD dengan status PNS.

Kondisi itu diperparah dengan sikap Fari yang cemburuan. Pertengkaran pun semakin sering terjadi. Puncaknya terjadi pada Ramadhan 2018 lalu. Fari meninggalkan rumah karena cemburu. Ia menuduh istrinya selingkuh dengan pria lain.

Pasangan ini pun pisah ranjang. Sri memilih ngontrak di Jalan Bhakti, Kelurahan Air Jukung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.

“Semenjak ketahuan selingkuh, saya yang kabur dari rumah. Lalu dia ngontrak karena berkelahi dengan orang tua saya,” ucap Fari kepada awak media di Mapolres Bangka, Rabu (29/8) kemarin.

Sri Devi ditemukan meninggal di kamar kontrakannya. (Radar Bangka)

Sri Devi ditemukan meninggal di kamar kontrakannya. (Radar Bangka)

Beberapa minggu kemudian, Fari mengajak Sri untuk rujuk kembali dan memperbaiki hubungan mereka. Namun Sri menolak. Warga Desa Bintet, Belinyu itu ngotot ingin cerai. Proses perceraiannya pun sedang berjalan.

“Saya sudah berkali-kali ngajak dia rujuk lagi, tapi dia tidak mau,” kata Fari.

Fari emosi. Ia cemburu dan dendam. Akhirnya, Fari mendatangi kontrakan Sri pada Selasa tengah malam (28/8). Fari masuk lewat jendela depan saat Sri tengah tertidur pulas.

“Pelaku langsung membekap wajah korban dengan bantal sehingga korban Sri Devi tidak bergerak lagi,” ucap Kasat Reskrim Polres Bangka, AKP Rio RP.

Setelah membekap wajah korban, pelaku kemudian mencekik lehernya. Setelah memastikan korban sudah tak bernyawa, pelaku mencari akal untuk menghilangkan jejak.

Sri Devi Guru PNS cantik di Bangka

Sri Devi

Pelaku membuat skenario agar korban seolah-olah meninggal karena bunuh diri. Awalnya, pelaku menyiapkan skenario seolah-olah korban bunuh diri dengan cara gantung diri.

Pelaku mengambil obeng yang ada di dapur, kemudian melubangi plafon di dalam kamar. Pelaku berencana menggantung leher korban di dalam kamar agar terlihat seperti orang gantung diri.

Namun plafon kamar terlalu tinggi, sehinga pelaku sulit menjangkaunya. Pelaku beralih ke plafon dekat kamar mandi. Pelaku lantas melubangi plafon menggunakan pisau. Tapi Lagi-lagi usaha pelaku gagal karena kesulitan mengaitkan tali ke leher korban.

Akhirnya pelaku mengubah skenario dari gantung dari ke bunuh diri dengan cara memotong urat nadi. Pelaku mengiris urat nadi lengan kanan korban, kemudian meletakkan pisau di tangan korban, sehingga seolah-olah korban bunuh diri.

Fariansyah alias Fari tertunduk lesu setelah ditetapkan sebagai tersangka pembunuh Sri Devi. (Foto/Babel Pos)

Fari tertunduk lesu setelah ditetapkan sebagai tersangka pembunuh Sri Devi. (Foto/Babel Pos)

Namun polisi tak bisa dikelabui. Polisi menemukan indikasi kuat bahwa korban tidak bunuh diri, melainkan dibunuh.

Setelah mengumpulkan bukti-bukti dan memeriksa sejumlah saksi, tersangka pembunuhan mengarah kepada Fari. Akhirnya polisi menangkap pelaku.

“Penyebab Fariansyah melakukan pembunuhan terhadap istrinya Sri Devi dikarenakan pelaku cemburu dan marah terhadap korban yang sering kedapatan berhubungan dengan laki-laki lain,” ucap AKP Rio.

Paman korban mengatakan, semasa hidupnya Sri Devi dikenal sebagai perempuan yang aktif bersosialisasi di lingkungan sekitarnya. Ia dikenal cukup baik, sehingga memiliki banyak sahabat dan kenalan.

Ketika korban dikabarkan meninggal, hampir setengah masyarakat Desa Bintet berduyun-duyun melayat ke kediaman korban untuk berbelasungkawa.

“Korban ini orangnya periang, suka bergaul dan hubungannya dengan masyarakat sekitar cukup baik, sehingga waktu dapat kabar korban katanya bunuh diri, hampir setengah masyarakat Desa Bintet datang melayat,” ucapnya di RSUD Sungailiat.

(one/babelpos/pojoksatu)