Kisah Daeng Boli, Penyandang Tunanetra yang Hidup Sebatangkara

POJOKSULSEL.com, GOWA – Seorang tunanetra tinggal di Desa Tanakaraeng Dusun Manyampa Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa hidup sebatang kara.

Tanggeng Daeng Boli, demikian sapaannya. Pria paruh baya yang telah berusia 70 tahun ini diketahui hidup sebatang kara dan telah menderita kebutaan sejak lahir.

Sementara itu, Tanggeng Daeng Boli sehari-hari menghabiskan waktunya untuk menjaga sawah dan sesekali juga mengembala sapi milik warga, upahnya diberi dalam bentuk makanan.

Adapun pria paruh baya ini hidup di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah persawahan, 1 km dari dari jalan desa.

Namun hal tersebut tak menyurutkan niat Kapolres Gowa Akbp Shinto Silitonga untuk bertemu pria tunanetra tersebut. Ia dengan begitu semangat memikul sendiri bantuan yang akan diserahkannya meski harus melintasi area pematang sawah.

“Kami menerima informasi bahwa ada warga yang membutuhkan uluran tangan, jadi kami segera bergegas untuk mengunjunginya sebagai wujud kepedulian sosial keluarga besar Polres Gowa,” terang Shinto.

Meskipun sedang mengenakan seragam dinasnya, tampak orang nomor satu dijajaran Polres Gowa itu pun tak segan-segan duduk beralaskan tanah sembari berbincang dan makan bersama dengan pria paruh baya itu.

Beragam bantuan pun diserahkan langsung oleh Kapolres Gowa kepada Tanggeng Dg Boli, diantaranya tas, baju, senter, sarung, hingga bantuan sembako, serta santunan.

“Apa yang kami berikan mungkin tak seberapa, tapi semoga apa dapat bermanfaat dan mengurangi beban, Bapak,” tutur Shinto.

Bantuan itu pun diterima Daeng Boli, dengan penuh haru, yang mengungkapkan rasa terimakasih setinggi-tingginya kepada Kapolres Gowa Akbp Shinto Silitonga bersama jajarannya.

Suasana bahagia terpancar jelas disenyuman yang terlihat di wajah Deng Boli.

“Terimakasih komandan,” ucapnya.

Selain itu, ada aksi tak terduga itu dilakukan orang nomor satu dijajaran Polres Gowa itu, yakni makan sebungkus berdua bersama Daeng Boli.

Meskipun saat itu ia sedang mengenakan seragam dinasnya. Namun tak menjadi alasan bagi Shinto untuk ikut duduk bersama pria tunanetra tersebut, meski hanya beralaskan tanah.

Tanpa rasa risih, Shinto terlihat begitu menikmati makanan yang dimakan sebungkus berdua itu, sembari menyuapi pria tunanetra tersebut.

“Pangkat dan jabatan tidak menjadi alasan untuk kita membatasi diri untuk selalu merangkul setiap orang, utamanya orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dari kita,” tutur Shinto.

(herman kambuna/pojoksulsel)