Hijaber Cantik Pemenang IDF 2018 Bongkar Cara Banjir Like dan Komen Hingga Jadi Pemenang

POJOKSATU.com, SAMARINDA- Herawati, Hijaber cantik sekaligus mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Univesitas Mulawarman mengungkapkan prosesnya dari awal mengikuti lomba kompetisi Blog #AtasiKesenjangan oleh Indonesia Development Forum 2018 #IDF2018, Jumat (13/7/2018).

Sebagai pemenang, kata Herawati, penghargaan tersebut langsung ia terima dari Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional oleh Prof. Bambang Bodjonegoro pada 10-11 Juli 2018 di Jakarta.

“Awalnya ikut IDF itu ikut abstak penelitian tentang kesenjangan, ternyata kurang beruntung, Jadi abstraknya gak kepilih,” katanya mengawali wawancara.

Kemarin (saat lomba, red), ia akhirnya mengajukan abstrak lagi dan sudah dikonsultasikan ke dua dosennya.

“Dan itu ngirimnya juga dekat deadline. ternyata abstraknya tidak diterima, dan saat itu belum ikut lomba untuk kategori blog. Seiring berjalannya waktu saya sering melihat informasi deadline lomba untuk kategoti blog,” jelasnya.

Ketika H-3, lanjutnya, mulai muncul niat. Kemudian ia mengerjakan artikel hingga larut malam. Artikel tersebut disusun pakai desain infografis.

“Bikin desainnya sampai 4 kali ngulang gara-gara banyak kesalahan teknis. Akhirnya bikin sambil banyak baca shalawat, terus submit larut malam. H-2 dibaca lagi pas paginya, saya merasa ingin merevisi kalimat,” terang perempuan yang biasa disapa Hera ini.

Aslinya direvisi, kata Hera, baru habis itu menggalang dukungan dengan mengirim BC (boardcast, red) ke berbagai grup lantaran ketentuan finalis dilihat dari like dan comment. Ia menyebut da yang merespon ada yang tidak.

“Ada yang bilang iya, ok, tapi belum comment. Dari situ saya terus usaha minta dukungan dan komentar positif. Masa penggalangan dukungan lumayan juga ada yang gak peduliin, sampai read aja. Di saat dapat komen dan like gak banyak-banyak amat, ternyata Hera dapat jempol terbalik,” bebernya.

Saat itu, aku Hera, sempat ngerasa down.

“Kok tega ngasih jempol terbaik, padahal kan harus bikin akun dulu, validasi akun dulu, terus cari tulisannya. Terus mikir lagi, ada juga yang ngasih jempol, ada juga yang ngasih komen-komen positif. Saya merasa ada dukungan dan harapan tulisan saya jadi solusi,” katanya.

Lalu, Hera pun galang dukungan lagi meski ada yang menolak secara halus. Ia pun menyusun desain di medsos buat mendapatkan dukungan.

“Sebenarnya sempat malu juga karena jadi harus muncul minta dukungan menjelang Idul Fitri kemarin. Sampai deadline tulisan blog Hera tidak termasuk dalam daftar tulisan terpopuler,” terangnya.

Hari berlalu. Akhirnya nama Hera terpilih jadi finalis di antara empat finalis lainnya. Dua finalis sudah kerja, tiga mahasiswa seperti dirinya.

“Di antara kami berlima, jumlah like dan komen yang saya miliki masih jauh dibanding mereka. Ibaratnya temen-temen lainnya sudah masuk ke dalam list blogger populer. Akhirnya waktu itu bikin ucapan terima kasih buat semua yang dukung Hera. Apapun yang terjadi inovasi ini akan terus dikembangkan,” katanya.

Ia mengaku pada hari pengumuman awalnya tidak pegang HP.  Saat memegangnya ada notif dari nomor dari Jakarta sudah menghubungi tiga kali.

“Pukul 1, pukul 2-an,jam 3-an. Saya ngerasa kayaknya ada yang penting banget. Waktu itu gak diangkat karena lagi ujian tertulis buat ikut pelatihan. Ternyata itu nomor salah satu penyelenggara IDF 2018,” akunya.

Ia pun mencoba menghubungi balik sampai ke operatornya dan mengaku tidak tahu apa-apa. Hera mengaku galau menang atau tidak.

“Pas cek ke websitenya ada tulisan Hera dimuat, tulisan finalis lainnya gak ada. Ternyata nomor yang tadi menghubungi kembali menelpon, dia memastikan kehadiran saya di acara IDF.  Akhirnya pulang ke rumah ngabarin orangtua,” katanya lagi.

Masih kata Hera, ibunya sempat menyampaikan hal demikian adalah penipuan. Tapi seiring berjalannya waktu ada kiriman tiket pesawat dan hotel, mamak (panggilan ibu Hera) percaya kalau ini bukan penipuan.

“Jadi di sini saya sangat merasakan perjuangan dapat kepercayaan orangtua. Pas sekarang udah pulang, Alhamdulillah mamak senang. Segala ketakutan malah gak ada, dan hal-hal positif malah banyak,”

Pada blognya, Hera menuliskan tentang Shop141 sebagai salah satu inovasi yang dikembangkan one house innovation dan fokus membangun kesehatan dengan prinsip one health dan kewirausahaan sosial.

“Inovasinya itu get 1 for 1, tujuannya untuk menangani kesenjangan ekonomi dan kesenjangan gizi. Jadi di sini berusaha membangun sosial e commerce, di mana setiap kita melakukan tansaksi untuk beli sesuatu yang kita butuhkan dan kita inginkan, secara gak langsung bantu kesenjangan ekonomi dan kesenjangan gizi,” terangnya.

Menurutnya, berbagai produk yang dijual hasil dari pemberdayaan masyarakat yang merupakan keluarga pra sejahtera yang memiliki balita stunting.

Ada tiga kategori, makanan basah semacam puding dengan alpukat dengan bahan utamanya kita kreasikan, pemasarannya secara lokal. Kedua, pangan lokal yang dikemas, bisa dipasarkan secara nasional. Ketiga, barang kerajinan tangan dengan nilai kedaerahan.

“Misalkan ini di Samarinda kita karena di Kalimantan Timur kasih kayak manik-manik gitu atau sarung Samarinda kain percanya. Kita juga inovasikan produk daur ulang, contohnya kayak kotak pensil. Kayak kemarin saya bawa (saat acara IDF, red) sebagai bahan prototipe yang dibuat dari sampah plastik,” jelas Hera panjang lebar.

Hera mencontohkan, misal dijual Rp 15 ribu , Rp 5 ribunya buat penyediaan makanan bergizi bagi bayi.

Jadi, masih kataHera, saat beli sama juga ngasih makan buat balita kurang gizi dan keluarga kurang mampu.

Pada naskahnya, ia pun menuliskan ide untuk  membantu keluarga pra sejahtera agar dapat penghasilan tambahan.

Inovasi ini, akunya, masih dalam tahap pengembangan. Ia mengaku sementara belum dapat funding  dari manapun.

Untungnya, katanya, dengan membuat makanan basah, sangat bagus putaran uangnya, meski belum ada bantuan dari pihak luar.

“Inovasinya ini fokus di Samarinda, karena di sini tempat saya kuliah. Lalu akan bikin di Balikpapan karena itu tempat kelahiran saya. Harapannya nanti di Samarinda bisa jalan meski nanti saya gak di sana, dan bisa dibuka di luar Kaltim. Saya juga berharap nanti bisa mengatasi masalah kesenjangan gizi dan ekonomi di Indonesia, dan bisa berkolaborasi dengan banyak pihak,” pungkasnya.

(maryam/pojoksatu)