Firdaus, Dilan dan Rangga

Politik nasional maupun lokal belakangan ini “teracuni” dengan alur Dilan; dalam style sikap, ungkapan, bahkan sampai kepada poster, video dan photo. Terakhir kali, kita dipertontonkan dengan aksi om Presiden Indonesia, Joko Widodo yang dianggap beberapa media mengenakan jaket ala Dilan saat mengendarai Chopper kuning. Mungkin maksud sang presiden hendak mengikuti trend kekinian hingga mengonsolidasikan para Dilaners, termasuk didalamnya anak-anak muda Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ya, beberapa orang anak-anak muda PKS sempat mengikuti gaya Dilan dalam membangun poster propaganda mereka. Apakah antithesa dari Jokowi hanya mereka yang mengerti maksudnya.

Di politik lokal, wabah Dilan hampir sering digunakan juga. Alih-alih membangun model kampanye baru, setelah Komisi Pemilihan Umum daerah (KPUD) propinsi Riau memutuskan para peserta Calon Gubernur (Cagub) Riau, poster ala Dilan pun sempat muncul, “Jadi Gubenur itu berat. Kamu tidak akan sanggup, biar aku saja” begitu kata pendukung pasangan calon (paslon) nomer sekian. Saat membaca poster ini, saya senyam senyum saja. Geli! “Gak kreatif banget,” ungkap saja dalam hati. Asal caplok, yang penting lagi trend, semuanya dikorelasikan dengan jagoan politiknya. Padahal, kampanye programatik jauh lebih penting daripada mengumbar kalimat-kalimat absurd. Karena tanpa fondasi yang kuat lagi minim solusi, kampanye ala Dilan-dilanan ini pun hilang diterpa angin. Beberapa waktu senyap, kemarin kembali muncul video kampanye Dilan-dilanan lagi. Huffttt, mainstream banget!

Melihat poster, video, alur cerita bergaya Dilan, saya jadi ingat Rangga. Lelaki kalem, penyinta C. Anwar, memiliki beribu rahasia, dan protes dengan keadaan ayahnya yang kritikus Orde Baru (Orba) dicap Komunis, walaupun dalam beberapa tulisan saya temukan ternyata ayah Rangga seorang yang antikomunis. Yosrizal, begitulah nama ayah Rangga. Dua sisi yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan ayah Dilan yang seorang tantara itu. Karena pekerjaannya ini, Dilan dan keluarga sering berpindah-pindah dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Ketika duduk di kelas 3 SD, Dilan sekeluarga pernah tinggal di Kabupaten Manatuto, salah satu kota di daerah Timor-Timur yang dulu masih bagian dari wilayah Indonesia sebagai propinsi. Terus pindah lagi ke Ambon, terus pindah lagi ke Manahan, Solo, tapi cuma sebentar, gak tau kenapa.

Rangga ke Newyork, membangun sebuah cafee disana Bersama Roberto dan kawan lainnya. Roberto meyakinkan jika Rangga lebih baik menjadi seorang penulis ketimbang pada usaha yang dia lakukan saat itu. Dilan menjadi komandan tempur sebuah Gank Motor. Kedua-duanya memang diilhami Susana romansa; Dilan penuh ungkapan singkat, membingungkan (susah diterjemahkan), tak teratur, sementara Rangga lebih puitis, klasik, dan banyak permisalan (langsung pada maksud).

Tentang Seseorang

Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera
Atau aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?
(Rangga)

“Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.”
“Kenapa?” kutanya.
“Berat,” jawab Dilan. “Kau gak akan kuat. Biar aku saja.”
(Dilan to Milea, Bandung 1990)

Firdaus bukanlah Dilan atau Rangga. Karena itulah, poster, model kampanye dan lain sebagainya, lebih programatik, menonjolkan visi, ketimbang muter-muter ke arah yang absurd. Saya pernah berdebat dengan seorang kawan, saat melihat video kampanye salah satu Paslon dalam Pilgubri yang “ke-Dilan-dilanan”. Saya lebih cenderung menempatkan kampanye programatik kepada hal-hal yang bersifat subtantif saja. Perdiskusian antara dua orang yang lawan jenis, menggunakan motor jadul, setelah mufakat lalu Bersama, terasa sangat umum. Mengapa harus dua orang yang lawan jenis? Apakah kedua orang tersebut sudah menikah? Apakah keduanya masih pacaran? Mengapa harus berhijab? Jika keduanya masih pacaran, mengapa harus satu kendaraan berdua? Banyak pertanyaan yang muncul setelah menonton kampanye “Dilan-dilanan” itu.

Kembali kepada arah propaganda Paslon nomer urut 3, Firdaus-Rusli Effendi. Keduanya merupakan lelaki cerdas, agamis, programatik, visioner, dan energik. Cerdas karena keduanya memang selalu menyampaikan sesuatu secara logis dan penuh pertimbangan. Suatu hari, di sebuah desa, saat kampanye ada masyarakat bertanya tentang, mengapa perusahaan di sekitar mereka rata-rata enggan mengambil pekerja dari masyarakat. Jika pun diambil dari tempatan, mereka hanya ditempatkan sebagai buruh saja. Jarang ada diterima sebagai bagian dari midle managemen di perusahaan. Menurut bapak, mengapa hal ini terjadi? Dan saat Bapak menjabat Gubernur Riau, apa yang akan Bapak lakukan terhadap persoalan ini? Firdaus menjawabnya dengan tenang “Kita harus melakukan kajian terlebih dahulu, mengapa perusahaan dimaksud enggan menggunakan masyarakat tempatan sebagai bagian dari midle management mereka. Apakah karena kurang skill? Karena level Pendidikan yang mesti dicapai? Atau karena apa? Jika karena skill atau keahlian, maka kami akan meningkatkan keahlian masyarakat disini guna menjadi bagian dari mereka. Menurut Firdaus, pemerintah dan masyarakat harus besinergi menemukan alasan dari seluruh pola recruitment yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang ada di Riau. Sehingga menemukan solusi untuk meletakkan putera-putera terbaiknya disana.

Firdaus bisa saja menjawab politis atau menjanjikan sesuatu yang tidak terstruktur di alam pikirnya. Seperti dengan kalimat “Kita akan mendesak mereka untuk menerima tenaga tempatan.” Peluang untuk mengungkapkan hal tersebut plus mendapatkan tepuk tangan lebih meriah, tentunya ada pada saat itu. Dia tidak melakukannya! Firdaus tidak menjadi Dilan, dapat dikemas dengan kalimat “Negosiasi dengan pengusaha itu berat. Kamu gak akan sanggup. Biar aku saja.” Atau menjadi Rangga “Tutup saja perusahaannya, ramai! Biar mengaduh sampai gaduh.”

(OPINI: SUTAN SATI)