Ekonom Minta Biaya Isi Ulang Uang Elektronik Dikaji Mendalam

Beritating Ekonom Minta Biaya Isi Ulang Uang Elektronik Dikaji Mendalam ditampilkan lebih awal di Pojok Satu. | by Pojok Satu

POJOKSATU.id, JAKARTA – Rencana pengenaan biaya isi ulang kartu uang elektronik dinilai kurang tepat.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menuturkan perlu ada kajian yang lebih mendalam mengenai pengenaan biaya isi ulang ini.

Dirinya menilai pengenaan biaya isi ulang kartu uang elektronik bisa membebani masyarakat.

Jika isi ulang uang elektronik langsung dikenakan, masyarakat bisa jadi tidak akan tertarik untuk menggunakan uang elektronik.

Pada beberapa titik isi ulang, masyarakat memang sudah dikenakan biaya. Di halte Transjakarta misalnya, setiap isi ulang kartu uang elektronik dikenakan biaya Rp 2 ribu.

Selaku otoritas yang menangani sistem pembayaran, Bank Indonesia (BI) pernah menyebutkan kemungkinan biaya isi ulang uang elektronik antara Rp 1.500 sampai Rp 2 ribu.

“Buktinya, di stasiun commuter line masih banyak antrean orang menukarkan Tiket Harian Berjaminan (THB). Artinya banyak orang yang merasa beli kartu uang elektronik Rp 25 ribu itu mahal. Kalau mereka masih dibebankan biaya isi ulang, akan berat,” katanya.

Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya dibebankan biaya infrastruktur GNNT. Hal itu seharusnya ditanggung oleh perbankan yang memang memiliki belanja modal untuk menciptakan pasar bisnis uang elektronik.

Beritating Ekonom Minta Biaya Isi Ulang Uang Elektronik Dikaji Mendalam ditampilkan lebih awal di Pojok Satu.