Cakupan Imunisasi Vaksin MR di Sumut Rendah, Baru 33 Persen

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Pro dan kontra tentang manfaat vaksin Measles Rubella (MR) membuat banyak warga enggan membawa bayinya ikut imunisasi. Imbasnya, cakupan vaksinasi MR di tiap daerah rendah, termasuk di Sumatera Utara (Sumut).

Alhasil, Sumut beresiko mengalami Kasus Luar Biasa (KLB) untuk penyakit campak rubella ini. Mengingat, kampanye yang sudah berjalan selama sekitar 46 hari masih belum menunjukan peningkatan berarti.

Kepala Seksi Surveilans Imunisasi Dinas Kesehatan Sumut, Suhadi menjelaskan, dari data yang terkumpul  hingga Sabtu (15/9), kampanye MR baru mencapai 33,6 persen dari target. Padahal, hingga akhir bulan September ini, ditargetkan imunisasi MR dapat diberikan minimal kepada 95 persen dari sasaran vaksin 4.291.857 anak.

“Hingga saat ini cakupan rendah, terutama di wilayah dengan mayoritas Muslim seperti Madina (Mandailing Natal). Padahal, imunisasi ini tidak akan bermanfaat kalau cakupannya rendah dan tidak merata,” katanya dalam Diskusi Publik Campak Rubella bersama Jurnalis dan Pemangku Kepentingan Provinsi Sumatera Utara di Aula Rapat II Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan, Sabtu (15/9).

Kegiatan yang digelar Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) bekerjasama dengan UNICEF serta Dinas Kesehatan Sumut  dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan ini, Suhadi menjelaskan, kampanye MR penting dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit yang disebut juga campak Jerman ini. Dengan pemberian vaksin kepada semua anak usia 9 bulan hingga 15 tahun, ungkap dia, diharap timbul kekebalan tubuh sehingga penyakit tidak menjadi wabah.

“Maka itu, saya mohon kepada teman jurnalis agar bisa mengungkap cakupan kampanye MR per Kabupaten/kota. Sehingga kepala daerah malu dan bisa mendesak agar program pencegahan penyakit dari pemerintah ini bisa mencapai target,” jelasnya.

Ketua Komda Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (PP-KIPI) Sumut, Prof Dr H Munar Lubis SpA (K) dalam memaparkan makalahnya mengungkapkan, bahwa imunisasi dilakukan untuk mengunci atau menjadi antibodi agar tidak timbul penyakit. Meski sudah diimunisasi, anak masih bisa tertular, tapi resikonya jauh lebih ringan.

“Sedangkan yang belum diimunisasi, sakitnya akan lebih berat, lebih lama dan lebih berbahaya,” tutur Ketua IDAI Sumut ini.

Menurutnya, jika menulari anak, campak Jerman ini hanya menimbulkan gejala ringan. Namun, jika diidap wanita hamil maka cukup berbahaya karena dapat menimbulkan abortus atau bayi lahir dengan CRS atau sindrome kecacatan pada bayi. “Jadi anak kita diimunisasi untuk melindungi cucu kita nantinya,” ungkap alumni FK USU ini.

Jadi, sambung Prof Munar, program kampanye MR ini harus mencapai cakupan target 95 persen agar berhasil dan dapat mengeliminasi virus.

Sementara itu, Ratih, salah seorang ibu yang bayinya menderita Rubella berharap tidak ada kekhawatiran lagi soal vaksin. Mengingat, dia mengalaminya sendiri bagaimana harus berjuang tetap tegar di hadapan putrinya bernama Iftiyah.

Iftiyah lahir dengan berat 1,7 kg tahun 2016 lalu dan harus berada ruang incubator RS Bunda Thamrin Medan selama 7 hari. Iftiyah tidak lahir premature. Ia termasuk dalam kategori BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).

Ratih harus menerima kenyataan karena virus Rubella yang menjangkitinya sejak hamil, Iftiyah lahir dengan kondisi tak normal seperti bayi sesusainya. Dia kesulitan mendengar, melihat dan tubuhnya bergerak lamban tumbuhnya.

“Saya sedih saat tahu anak saya tertular Rubella. Pasti saya rasakan sama seperti ibu-ibu yang lainnya yang anaknya tertular Rubella. Karenanya saya tidak ingin ada lagi anak yang tertular. Kami sering mendapatkan hujatan. Mohon bantuan pihak terkait terutama media agar memberikan informasi yang benar terkait imunisasi MR ini.  Agar, kami para pejuang Rubella ini bisa menyampaikan saat berhadapan dengan ibu-ibu anti imunisasi,” ujarnya.  (*/nin/pojoksumut)